MANIFESTO FAKSI TERORISME AUDIO
Bagaimana Meniadakan Realita Musik Dengan Merealisasikan Musik

Hingga saat ini, pemberontakan kami secara garis besarnya telah menemukan bentuk dan kategorinya sendiri dari perjuangan revolusioner yang telah lalu, dari apa-apa yang pernah kami lakukan dan yang dilakukan orang-orang di sekeliling kami dan mereka yang sebelum kami. Kami mengajukan usulan untuk tidak pernah melupakan berbagai bentuk pengekspresian diri. Maksud kami, dengan ini sudah seharusnya kita semua mengabaikan ‘bentuk’ yang berarti kita telah mengobarkan perang terhadap nilai-nilai tradisional yang melihat segala sesuatunya pada ‘bentuk’--nilai-nilai yang dimapankan oleh sistem ini. Kami harus mulai untuk merealisasikan seni dan menghapuskan nilai-nilai seni yang berkutat pada imej.
Kebanyakan dari kami sangatlah sadar bahwa kami tidak memiliki kekuatan atas hidup kami sendiri; kami sudah tahu hal tersebut, tapi kami tidak mengekspresikannya dalam bahasa baku sosialisme dan revolusi yang pernah ada.
Kami melihat mereka, para militan dan revolusionis yang masih terus hidup dan sibuk dengan aktifitasnya, seringkali merasa terganggu dan kecewa dengan kenyataan yang ada bahwa sebagian besar masyarakat terlalu malas untuk sekedar membaca dan bertukar pikiran, apalagi hal ini didukung oleh harga buku dan literatur lainnya yang tidak akan pernah mendapat tempat dalam standar hidup yang rendah. Tapi mereka lupa, bahwa diantara berbagai masalah ekonomi--dan disamping kemalasan dan ketidakmampuan orang-orang untuk menjadi aktif dalam masyarakat tontonan ini--di antara kami, yang tidak mampu memfokuskan pikiran kami pada suatu hal dikarenakan jam kerja kami yang panjang setiap harinya, saat membaca literatur revolusioner, harus berpikir lebih keras dan mengeluarkan dana lebih besar dari sekedar menyewa VCD Holywood dan menjadi pasif serta menelan apa yang kami tonton. Seperti kami, kebanyakan orang cenderung memilih sesuatu yang dapat menemani mereka untuk beristirahat setelah kerja daripada harus melakukan sesuatu yang menuntut konsentrasi dan keaktifan.
Kini, apa yang ingin kami lakukan adalah membuat jembatan antara kritik teoritis tentang masyarakat modern dengan kritik tersebut dalam bentuk aksinya. Kami semua tidak mungkin dapat mentransformasikan hidup kami hanya dengan satu cara dan bentuk yang baku.
Apa yang kami inginkan adalah sebuah pandangan alternatif pada sesuatu yang berbeda dan menawarkan perubahan. Daripada merasa takut atas perubahan, kami memilih untuk memeluknya dengan sepenuh hati. Mereka yang menikmati modernisasi tetapi menyepelekan kekuatan yang menciptakan modernisasi tersebut tak lebih daripada orang-orang hipokrit. Mereka membenci orang-orang yang tidak menemukan keindahan dalam dunia kerja, kecepatan, keinstanan dan mesin serta tata kota. Point kami adalah: bahwa ada keindahan dalam kekerasan, penghancuran, kebencian dan nafsu. Ada keindahan dalam dosa dan modernitas. Kita harus belajar untuk mencintai sisi buruk kita. Mengabaikan nilai estetis dalam kekerasan adalah sesuatu yang sia-sia, walaupun dengan cara menguburkan diri kita jauh di dasar samudera, tak akan pernah hidup kita terlepas dari apa yang bernama kekerasan. Kami tidak ingin memeluk kekerasan sebagaimana kaum militer dan para puritan fundamental, kami hanya ingin memperlihatkan keindahan dalam kekerasaan seperti halnyaa dalam kelembutan kuntum bunga, dalam penghancuran sebagaimana dalam penciptaan, dalam kobaran api sebagaimana dalam lautan biru yang dalam, dan dalam kebencian sebagaimana dalam cinta kasih. Kami tahu bahwa cara pengekspresian diri dalam dunia baru yang kontemporer tak akan dapat diekspresikan dengan berkutat pada nilai-nilai lama.
Lalu apa kaitannya dengan taktik yang kami usulkan dengan mempublikasikan rekaman audio yang jelas adalah taktik usang? Di samping semua alasan standar bahwa musik adalah sebuah ekspresi emosional individual yang dapat merupakan katarsis bagi kebusukan dunia nyata ini, alasan pertama kami adalah, bahwa musik yang kami publikasikan adalah sebuah bentuk pemberontakan terhadap nilai lama, merupakan kekerasan terhadap status quo; menyimpan keindahannya dalam kekerasan, dinamitas, kebisingan dan kehancuran. Memperhatikan musik seperti ini adalah seperti juga memperhatikan lukisan Balla dan seni yang diajukan oleh Jamie Reid. Kami menyukai vibrasinya, gerakannya, energinya, kekuatannya, teriakannya, kegilaannya, histeria yang ditimbulkannya. Musik yang kami pilih harus menjadi lebih dari sekedar katarsis, lebih dari sekedar penyaluran emosional, kami menyukai kekerasan yang dibawanya--walaaupun apabila musiknya terdengar sangat perlahan. Kami menyukai agresifitasnya, pendeklarasian perangnya. Kedua, kami berusaha untuk membangun kultur alternatif, sebuah kultur yang mengerti diri kami. Kami juga selalu mencari cara menghancurkan kultur dominan, mengubur yang lama, melahirkan yang baru. Kami berusaha untuk membangun pola komunikasi kami sendiri. Kami telah menyebarkan penyakit kami ini sekian lama melalui apa yang mereka namakan dunia seni, dan kami sekarang memilih untuk melebarkan sayap kami kepada dunia musik anti seni, serta dengan cara apapun yang kami anggap mungkin. Dan pada intinya, ini semua adalah tentang pembebasan individualitas, pemikiran kritis dan non-konformitas. Kami merasa sudah waktunya bagi kami untuk menghancurkan outlet-outlet seni korporasi dan memulainya dengan gerakan musik anti-seni yang telah dikobarkan di belahan dunia lain pertengahan akhir abad lalu--dan apabila kami gagal, setidaknya kami telah mencoba mengobarkannya disini.
Saat ini, sesuai realita, waktu untuk musik sudah berakhir, sekaranglah saatnya untuk merealisasikan musik, untuk sungguh-sungguh membangunnya dalam setiap level kehidupan. Musik dapat direalisasikan hanya dengan cara menekannya. Bagaimanapun juga, bertolak belakang pada tatanan masyarakat saat ini, dimana cara menekannya adalah dengan menggantinya dengan sistem yang lebih pasif dan hirarkis, kami menyatakan bahwa musik dapat benar-benar ditekan hanya dengan cara merealisasikannya.
Dalam masalah ini, kami melihat pada masa lalu dimana musik ditekan dalam kehidupannya. Di negara-negara blok Timur (sebelum runtuhnya Uni Soviet), seni--termasuk musik--yang diperkenankan hanyalah Realisme Sosialis, yang jelas sama sekali bukan seni, melainkan lebih sebagai fungsi sosial yang mengikat. Hal ini dikarenakan kekuatan di balik seni tersebut yang pada tujuannya adalah menjual ideologi dimana pada saat yang sama, blok Barat menjual produk konsumen. Dalam masa tersebut seni-seni yang mengacu pada pemberontakan--dengan kata lain keluar dari jalur Realisme Sosialis--akan mendapatkan hadiah pembredelan atau kala lain berupa penangkapan, yang dalam hal ini justru merealisasikan seni itu sendiri. Ini juga terjadi di Indonesia pada era rezim Sukarno, dimana musik rock’n’roll dilarang karena dianggap tidak memapankan ideologi nasionalisme yang dia bangun--saat itu seni yang terealisasikan adalah musik rock’n’roll. Dan hanya dengan cara seperti itulah maka seni dapat menjadi nyata.
Apa yang harus kami kerjakan sekarang adalah merealisasikan musik, bukan sekedar menikmatinya sebagai sebuah karya seni. Dan sebelum hal tersebut tercapai, musik yang dilabelkan sebagai musik alternatif yang berkembang dalam (yang biasa disebut) kultur-perlawanan tak akan pernah benar-benar menjadi alternatif seradikal apapun lirik yang tercantum di dalamnya, tak ubahnya seperti sebuah jam tangan Swatch yang bergambarkan Che Guevara atau Prada yang ikut merayakan ulang tahun Revolusi Kuba setiap tahunnya.
Maka kami menyatakan bahwa;
Kami bergerak secara internasional karena kami yakin bahwa hanya dengan gerakan universal-lah maka seni akan hancur!
Kami tidak menginginkan konser-konser musik dimana musik tidak pernah terealisasikan dan malahan teralienasikan dari hidup!
Kami ingin nyanyian tentang kecintaaan akan bahaya dan petualangan, representasi dari energi dan ketidaktakutan!
Kami ingin nyanyian dari orang-orang yang terkekang oleh kerja, tradisi dan termotifasi oleh gairah dan kerusuhan!
Kami ingin menghancurkan kultur lama dan obsesi kebesaran! Kami akan melawan segala bentuk kritisi musik yang tidak berguna dan berbahaya!
Kami ingin membuat ruang bagi semua kemudaan, keberanian dan kecintaan akan perubahan!
Dan pada akhirnya, kami tidak pernah eksis sama sekali.
Dari kami para (eks-)seniman pembenci seni: Allysa Riati, Mimpi Buruk, Maya, Procrastinator.
Faksi Terorisme Audio - Kolektif Kontra-Kultura - 31 Januari 2002
No Comments Yet...